Salah satu tantangan menulis buku self-improvement adalah menyampaikan nasihat tanpa membuat pembaca merasa sedang diceramahi. Penulis mungkin memiliki pengalaman dan pengetahuan yang baik, tetapi cara menyampaikannya akan menentukan apakah pembaca merasa ditemani atau justru merasa dihakimi.
Mulailah dengan memahami masalah pembaca. Jika buku membahas kesulitan mengatur waktu, jangan langsung mengatakan bahwa pembaca harus disiplin. Jelaskan terlebih dahulu mengapa seseorang dapat mengalami kesulitan mengatur aktivitas, kemudian tawarkan langkah yang realistis untuk memperbaikinya.
Gunakan pengalaman sebagai contoh, bukan sebagai pembuktian bahwa penulis lebih berhasil. Anda dapat menceritakan kesalahan yang pernah dilakukan, konsekuensinya, proses memperbaikinya, serta pelajaran yang diperoleh. Pendekatan tersebut membuat isi buku terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Hindari terlalu banyak kalimat perintah seperti “Anda harus”, “Anda wajib”, atau “jangan pernah”. Gunakan pertanyaan yang mengajak pembaca berpikir. Misalnya, “Aktivitas apa yang paling banyak menghabiskan waktu Anda setiap hari?” Pertanyaan semacam ini memberikan ruang kepada pembaca untuk mengevaluasi dirinya sendiri.
Berikan pula tindakan yang konkret. Daripada sekadar mengatakan “mulailah hidup produktif”, jelaskan langkah sederhana seperti membuat tiga prioritas harian, membatasi waktu menggunakan media sosial, atau mengevaluasi aktivitas sebelum tidur.
Buku pengembangan diri yang baik tidak perlu menjanjikan perubahan hidup secara instan. Pembaca justru membutuhkan gagasan yang masuk akal dan dapat dicoba sesuai kondisinya.
Posisikan diri sebagai seseorang yang berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ketika pembaca merasa memahami masalah yang dibahas dan menemukan langkah yang dapat dilakukan setelah menutup buku, tulisan self-improvement Anda telah menjalankan fungsi utamanya.
