• -27% TIANG DAN ATAP DI TENGAH BADAI

    TIANG DAN ATAP DI TENGAH BADAI

    Penulis :

    Sundarni

    ISBN : 978-634-0454-92-5

    Jumlah Hlm : x + 88
    Ukuran : 14 x 20 cm
    Kertas : Bookpaper
    Tahun Terbit : 2025
    Editor : –

    SINOPSIS

    TIANG & ATAP DI TENGAH BADAI

    “Maukah kau menjadi Tiang dan Atapku agar aku bisa berdiri tegak?”

    Sebuah janji yang diucapkan dengan kerendahan hati, namun mengandung kekuatan yang sanggup melawan dunia. Ini adalah kisah tentang pilihan yang berani: seorang gadis yang sudah kenyang dengan kepahitan hidup memutuskan untuk menikahi Adi, seorang pria tunanetra. la melamanya bukan dengan harta, melainkan dengan ketegasan hati.

    Pernikahan mereka tidak disambut karangan bunga, melainkan air mata dan kekhawatiran yang tebal. Ujian datang, kesulitan finansial. Namun, badai yang sesungguhnya terjadi di suatu malam hujan, ketika keraguan orang tua memuncak menjadi tindakan nyata: pintu kamar dikunci, dan Adi diusir tanpa sepatah kata perpisahan dari istrinya.

    Terperangkap dalam kesendirian, sang istri mengubah air mata menjadi tenaga. la bekerja siang dan malam, melawan makian, hingga di tengah keputusasaan, ia menekan kekuatan. Ketika Adi kembali, dan mereka bersatu, ia mengandung. Dalam doanya ia meminta sebuah tanda dari Tuhan. Sabilal Akbar lahir di bawah guyuran hujan menjadi validasi surgawi atas keyakinan yang tak pernah luntur. Keyakinan mereka membuat pengorbanan itu berbuah manis.

    Tiang dan Atap di Tengah Badai adalah tentang ketulusan, sebuah memoar yang membuktikan bahwa cinta sejati bukanlah tentang pandangan mata, melainkan tentang keteguhan hati yang saling menopang. Kisah ini adalah bukti bahwa warisan terbaik bagi anak-anak bukanlah harta melainkan semangat pantang menyerah dari orang tua mereka.

    Daftar Isi

    PENDAHULUAN V
    PROLOG 1
    TIANG & ATAP DI TENGAH BADAI 2

    BAB I 5
    Kepingan Langit Di Petak Kontrakan 6
    Kepulangan & Pelajaran Pertama Tentang Tanggung Jawab 9
    JANJI Di Bangku Sekolah & Panggilan Untuk Menopang 12
    IKRAR Di Tengah Badai Keraguan 18

    BAB II 25
    Kesetiaan Cahaya Perjuangan 26
    Di Bawah Langit Yang Menangis 31
    KESUNYIAN PANJANG Di Balik Gempuran Rutinitas 36
    Pertemuan Kembali 40

    BAB III 43
    Rezeki Yang Ditolak & Kekuatan Iman 44
    Sabilal Akbar Tanda Dibawah Guyuran Hujan 49
    MUKJIZAT Di Kota Santri 52
    Badai Berlalu Mentari Terbit 56

    BAB IV 59
    TITIK BALIK DIBAWAH NAUNGAN REZEKI 60
    Lika-Liku Kontrakan & Harga Sebuah Pendidikan 67
    Puncak Perjuangan & Janji Masa Depan 75
    Harta Yang Sejati Bukanlah Dinding 80
    WARISAN YANG TAK TERLIHAT 83
    REFLEKSI DAN MOTIVASI TERAKHIR 86

     

    Original price was: Rp55.000.Current price is: Rp40.000.
  • -44% TRIOLOGI SASMITA TEMARAM “waktu terakhir sebelum kamu tidak bisa lagi berpura- pura tidak tahu.”

    TRIOLOGI SASMITA TEMARAM “waktu terakhir sebelum kamu tidak bisa lagi berpura- pura tidak tahu.”

    Penulis :

    Lelianto Pradana

    ISBN : –

    Jumlah Hlm : vi+118
    Ukuran : 14 x 20 cm
    Kertas : Bookpaper
    Tahun Terbit : 2026
    Editor : –

    SINOPSIS

    Jakarta tidak lagi dijajah dengan bedil. Penjajahan masuk melalui saku celanamu, bersemayam di layar yang tidak pernah benar-benar padam, dan bekerja paling efektif justru saat kamu merasa paling bebas. Ia tidak butuh seragam atau penjara berjeruji besi. Ia hanya butuh kuota data, jempol yang gelisah, dan sedikit rasa haus akan pengakuan.

    Damar Satria adalah arsitek di balik Candoe — algoritma yang tahu apa yang kamu inginkan bahkan sebelum kamu tahu sendiri. Dari lantai lima puluh Menara Gading, Jakarta tampak seperti model miniatur yang bisa ia atur dengan dua jari. Manusia adalah angka. Kemarahan adalah komoditas. Rasa tidak cukup adalah bahan bakar yang paling efisien.

    Selama lima tahun, ia percaya bahwa ini adalah kemajuan.

    Sampai suatu malam, sistemnya sendiri menghancurkan adiknya.

    Di sebuah lorong yang tidak ada di dalam peta GPS — tempat rak-rak buku berdiri di depan buldozer dan seorang perempuan melukis di dinding karena dinding tidak bisa dihapus — Damar menemukan sesuatu yang tidak ada dalam model prediksinya: orang-orang yang memilih untuk tetap ada, bukan karena mereka menang, tapi karena mereka percaya bahwa ada sesuatu yang layak untuk dipertahankan.

    Nadira melukis mural yang tahu bahwa suatu hari akan dicat ulang. Pak Arip membeli koran bekas per kilo dari warung loak karena ia tahu bahwa ingatan yang tidak dijaga akan hilang tanpa suara. Keduanya tidak mengajarkan Damar cara melawan. Mereka hanya menunjukkan apa yang selama ini ia pilih untuk tidak lihat.
    Apa yang terjadi kemudian bukan revolusi. Tidak ada teriakan massa, tidak ada momen heroik yang bisa dijadikan konten. Hanya satu keputusan yang dibuat pukul empat pagi, di depan layar yang menyala, oleh seseorang yang akhirnya memahami bahwa ada perbedaan antara membangun sesuatu dan membangun sesuatu yang layak dibangun.

    Temaram adalah novel tentang harga sebuah pilihan — tentang apa yang tersisa ketika sistem mengambil segalanya kecuali nama seseorang yang pernah kamu lewati tanpa berhenti, tentang mengapa merawat ingatan adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang tidak bisa dimatikan dari server mana pun, dan tentang seorang adik yang belajar bahwa kehilangan kadang membuat seseorang lebih cepat melihat apa yang sebenarnya ada di depannya.

    DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………… v
    DEDIKASI ………………………………………………………………………………….. vi
    PROLOG: TULISAN DI ATAS PASIR DIGITAL …………………….. 1
    BAB 1: MENARA GADING DIGITAL ……………………………………. 2
    BAB 2: RETAK PADA LAYAR YANG DINGIN ……………………. 9
    BAB 3: PERTEMUAN DI LORONG SUNYI ………………………….. 16
    BAB 4: GURU DARI MASA LALU …………………………………………. 27
    BAB 5: KASIH DI RUANG TANPA SINYAL …………………………. 38
    BAB 6: PERJAMUAN PENGKHIANAT …………………………………. 44
    BAB 7: PILIHAN DI PERSIMPANGAN JALAN ……………………. 49
    BAB 8: PEDANG YANG MEMISAHKAN KASIH ………………… 56
    BAB 9: MEMBASUH KAKI SEJARAH …………………………………… 71
    BAB 10: MALAM PENYINGKAPAN………………………………………. 80
    BAB 11: MIMBAR KESAKSIAN ……………………………………………… 91
    BAB 12: PENGADILAN DAN PENGAMPUNAN…………………. 99
    BAB 13: BIJI SESAWI DI BALIK TEMBOK ………………………… 111

    Original price was: Rp80.000.Current price is: Rp45.000.
  • -29% YANG TAK TERUCAP DI BALIK KAKI  GUNUNG SLAMET

    YANG TAK TERUCAP DI BALIK KAKI GUNUNG SLAMET

    Penulis :

    MAULANA TEGUH PERDANA

    ISBN : 978-634-05-0005-9

    Jumlah Hlm : x + 81
    Ukuran : 14 x 20 cm
    Kertas : Bookpaper
    Tahun Terbit : 2026
    Editor : –

    SINOPSIS

    Maya, seorang jurnalis investigasi berusia 28 tahun, merasa jenuh dengan rutinitas liputan kota yang monoton. Didorong oleh idealisme untuk mengungkap kisah-kisah tak terucap dan rasa ingin tahu yang besar terhadap hal-hal mistis sejak kecil, ia terpikat oleh desas-desus dari temannya, Rio, tentang sebuah desa terpencil bernama Kalibiru di kaki Gunung Slamet, Tegal. Desa itu kerap dilanda musibah tak wajar dan beberapa kasus orang hilang misterius.

    Dengan alasan meliput “fenomena budaya lokal,” Maya nekat pergi ke Kalibiru. Setibanya di sana, ia disambut tatapan curiga warga dan memutuskan menginap di sebuah rumah tua di pinggir desa. Malam pertamanya diwarnai gangguan suara aneh, bayangan, dan mimpi buruk yang mengerikan, menandakan bahwa ia sudah menjadi target. Upayanya menggali informasi dari warga selalu menemui jalan buntu, hingga akhirnya seorang janda tua, Mbok Dalem, memberikan petunjuk samar tentang sebuah perjanjian kuno. Penemuan sapu tangan milik Rizal, salah satu korban hilang, di tepi Kali Gung semakin meyakinkan Maya bahwa ada misteri kelam yang tersimpan.

    Didampingi Rio yang akhirnya menyusul, Maya berhasil menemui Mbah Karto, sesepuh desa yang sangat tertutup. Mbah Karto dengan berat hati menceritakan tentang perjanjian yang dibuat leluhur desa dengan “Penjaga Rimba Slamet”—sebuah entitas purba berwujud tak stabil, kadang asap hitam raksasa, kadang ilusi ketakutan—untuk kemakmuran, dengan imbalan tumbal nyawa setiap purnama merah. Perjanjian itu dilanggar sekitar tiga puluh tahun lalu, membuat Penjaga Rimba murka dan kini menagih “ganti rugi” dalam bentuk tumbal manusia. Mbah Karto memberikan peringatan keras: Penjaga Rimba sudah mengawasi Maya.

    Teror pun menimpa Maya secara langsung. Gangguan di rumah semakin intens, peralatan investigasi rusak, dan yang paling mengerikan, Pak Slamet—kepala dusun yang membantu mereka—ditemukan meninggal dengan ekspresi ketakutan yang luar biasa. Ketegangan mencekik desa, mendorong Maya untuk mencari solusi. Ia dan Rio menemukan buku harian Arjuna, seorang peneliti yang juga mencoba mengungkap misteri ini 50 tahun lalu dan bernasib tragis. Buku itu berisi detail ritual pemutus perjanjian dan peta menuju “Jantung Kekuatan” Penjaga Rimba di kedalaman hutan.

    Maya, yang merasa terpanggil, memutuskan untuk menghentikan siklus teror ini. Bersama Rio dan beberapa warga muda yang lelah dengan ketakutan (Dani, Budi, Rina), mereka memulai perjalanan berbahaya di tengah malam menuju jantung hutan. Mereka menghadapi ilusi, jebakan, dan manifestasi mengerikan dari Penjaga Rimba yang mencoba menghentikan mereka. Di dalam gua “Jantung Kekuatan”, mereka berkonfrontasi langsung dengan entitas tersebut. Maya memimpin ritual pemutus perjanjian sesuai buku Arjuna, di tengah serangan mental dan fisik dari Penjaga Rimba. Ritual berhasil, namun Dani terluka parah akibat batu yang jatuh—sebuah pengorbanan yang pahit.

    Penjaga Rimba Slamet berhasil ditenangkan dan terkurung kembali, namun luka psikologis membekas pada Maya dan tim. Desa Kalibiru kembali tenang, tapi tidak sepenuhnya pulih; kewaspadaan dan ritual baru menjadi bagian hidup mereka. Maya menulis laporannya, namun sengaja tak mengungkap seluruh kebenaran, menyisakan misteri yang tak terucap agar desa bisa melanjutkan hidup.

    Bertahun-tahun kemudian, Maya—kini jurnalis sukses namun trauma—menemukan tanda-tanda kecil teror serupa di desa lain sekitar Slamet. Ia menerima foto anonim dan menemukan bayangan Penjaga Rimba yang jelas di foto lamanya. Epilog ini menegaskan bahwa Penjaga Rimba Slamet tidak benar-benar mati, hanya tertidur, menunggu waktu untuk bangkit kembali, meninggalkan Maya dengan kesadaran pahit bahwa beberapa rahasia harus tetap terkubur di balik keagungan gunung.

    Kata Pengantar ………………………….. ………………………….. ………………….. iii
    Daftar Isi ………………………….. ………………………….. ………………………….. . viii
    BAGIAN I: BISIKAN DARI KAKI GUNUNG …………………….. 1
    Bab 1: Panggilan dari Desa Terpencil ………………………….. …………..2
    1.1 Rutinitas yang Membosankan ………………………….. ……………2
    1.2 Percakapan yang Mengusik ………………………….. ………………..3
    1.3 Keputusan Nekat ………………………….. ………………………….. ……..6
    1.4 Perjalanan Menuju Senyap ………………………….. …………………8
    1.5 Tatapan Curiga ………………………….. ………………………….. …………9
    Bab 2: Senyapnya Rumah Tua ………………………….. ……………………. 12
    2.1 Rumah Tua di Tepi Jurang ………………………….. ……………….. 12
    2.2 Bisikan Malam Pertama ………………………….. ……………………. 13
    2.3 Warga yang Tertutup ………………………….. ……………………….. 15
    2.4 Pertemuan dengan Janda Tua ………………………….. ………… 16
    Bab 3: Jejak Hilang di Kali Gung ………………………….. ………………… 18
    3.1 Peringatan Tak Terucap ………………………….. ……………………. 18
    3.2 Kisah Tragis Keluarga Pak Karta ………………………….. ………. 19
    3.3 Penemuan di Tepi Sungai ………………………….. ………………… 21
    3.4 Tanda-tanda Aneh………………………….. ………………………….. … 23
    BAGIAN II: TEROR YANG BANGKIT KEMBALI …………….. 25
    Bab 4: Rahasia Sang Sesepuh ………………………….. …………………….. 26
    4.1 Petunjuk dari Secangkir Kopi Pahit ………………………….. … 26
    4.2 Kisah Perjanjian di Bawah Purnama ………………………….. .. 28
    4.3 Konsekuensi Pelanggaran dan Peringatan Keras …….. 31
    Bab 5: Teror di Balik Pintu ………………………….. ………………………….. .33
    5.1 Malam yang Tak Lagi Sama ………………………….. ………………33
    5.2 Penampakan dan Sentuhan Dingin ………………………….. ..34
    5.3 Gangguan pada Rio dan Peralatan ………………………….. ….35
    5.4 Korban Selanjutnya: Tragisnya Pak Slamet …………………37
    Bab 6: Buku Harian Kuno ………………………….. ………………………….. …39
    6.1 Petunjuk Tersembunyi di Rumah Tua…………………………. 39
    6.2 Kisah Peneliti yang Gagal ………………………….. ………………….41
    6.3 Detail Ritual dan Peta Terlarang ………………………….. ………42
    6.4 Tekad dan Bahaya yang Mengintai ………………………….. …44
    BAGIAN III: PERJALANAN MENUJU KEGELAPAN ……….. 46
    Bab 7: Perhitungan Mundur ………………………….. ……………………….. 47
    7.1 Ketakutan yang Tak Terbendung ………………………….. …….47
    7.2 Dilema Maya: Lari atau Melawan? ………………………….. ……48
    7.3 Sekutu Tak Terduga ………………………….. ………………………….. .49
    7.4 Persiapan Menjelang Tengah Malam …………………………. 51
    Bab 8: Ritual di Jantung Hutan ………………………….. ……………………53
    8.1 Perjalanan Menuju Kegelapan ………………………….. …………53
    8.2 Ujian dan Ilusi ………………………….. ………………………….. …………54
    8.3 Menemukan Situs Terlarang ………………………….. …………….56
    8.4 Menuju Jantung Kekuatan ………………………….. ………………..57
    Bab 9: Malam Puncak di Altar Tumbal ………………………….. ……….59
    9.1 Memasuki Sarang Teror ………………………….. …………………….59
    9.2 Kemunculan Penjaga Rimba Slamet ………………………….. .60
    9.3 Pertarungan Kehendak dan Ritual ………………………….. …..62
    9.4 Konsekuensi dan Pengorbanan ………………………….. ……….63
    BAGIAN IV: WARISAN YANG TAK TERUCAP …………………..66
    Bab 10: Bayangan yang Tertinggal …………………………………….. 67
    10.1 Pagi Setelah Badai …………………………………………………….. 67
    10.2 Luka yang Mengukir Jiwa …………………………………………. 68
    10.3 Desa yang Berubah …………………………………………………… 69
    10.4 Laporan yang Tak Terucap Penuh ……………………………… 71
    Epilog: Bisikan Angin dari Slamet …………………………………….. 73
    Epilog.1 Kehidupan yang Berlanjut …………………………………… 73
    Epilog.2 Tanda tanda Kecil ………………………………………………. 74
    Epilog.3 Warisan yang Tak Pernah Mati …………………………….  76
    Profil Penulis ………………………………………………………………….. 78

    Original price was: Rp70.000.Current price is: Rp50.000.